Mengenang Kartini dengan Budaya Menulis

ibu kartini-via sumber ini

Bagi yang menempuh pendidikan semasa TK dan SD-nya di Indonesia, tentu telah terlalu terbiasa dengan perayaan Hari Kartini yang identik dengan kostum baju adat beserta karnaval atau pawai keliling sekolah. Perayaan ini biasanya diorganisir sekolah yang begitu semangat memobilisasi siswa-siswinya untuk melakukan pawai dengan baju warna-warni asal pelosok negeri. Begitulah kiranya sedari kecil anak-anak dikenalkan dengan sosok Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita.

Anak-anak mungkin senang mengenakan baju demikian. Namun, para ibu kelabakan di rumahnya mencari baju apa yang akan dikenakan anaknya pada 21 April nanti. Jika saja ada baju adat di rumah, tentu mudah. Namun jika belum punya, pilihannya dua : membeli atau menyewa. Benar-benar tidak praktis untuk ukuran acara pawai setengah hari. Pada hari peringatan itu pula kita sering melihat rombongan anak-anak pakaian adat ditambah make up tebal menghiasi wajah keliling kompleks sekolah.

Setahun lalu, di beranda akun twitter saya, saya membaca satu tweet dari akun @Gol_A_Gong yang berbunyi, ”RA Kartini pasti sedih, karena hari kelahirannya dirayakan dengan bersolek, bukan menulis.” Pemilik akun tersebut, Gol A Gong, seorang penulis sekaligus pendiri Rumah Dunia di Serang, Banten, menyatakan keprihatinan yang turut mengetuk orang-orang soal Kartini dan menulis.

RA Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita karena ia menyampaikan kegelisahannya melalui tulisan. Begitu banyak surat ia kirimkan pada sahabat-sahabatnya di Belanda yang ia nilai sudah mendapatkan hak-haknya dengan baik di sana. Ia sampaikan kegelisahannya mengenai budaya jawa yang menurutnya menghambat kemajuan perempuan. Kebiasaan yang disebutnya itu berupa kebiasaan orang Jawa yang memingit anak perempuannya dan menikahkan anak perempuan dengan laki-laki yang tidak dikenal,

bahkan bukan sebagai istri pertama. Kartini yang kritis juga mempersoalkan kewajiban melafalkan dan menghafal ayat suci yang dilakukan tanpa memahami kandungannya.

Surat-suratnya menyampaikan kegelisahan dan pemikiran bahwa perempuan harus merdeka dan mendapatkan kedudukan yang sejajar dengan laki-laki. Pemikiran-pemikiran Kartini dalam surat-suratnya inilah yang kemudian dituangkan sebagai isi atau ide dari buku-buku yang tidak sekedar diterbitkan oleh penerbit, namun juga menerbitkan gagasan Kartini. Buku-buku tentang Kartini pun mengenalkan gagasan-gagasannya pada masyarakat luas hingga ia dikenal sebagai tokoh pejuang emansipasi wanita. Sebut saja buku tentang sosok Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang yang memuat surat-suratnya yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia serta Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer.

Terlepas dari perdebatan kebenaran surat-surat Kartini serta perdebatan adanya peringatan Hari Kartini semantara tidak ada hari khusus untuk pahlawan wanita lain yang mengangkat senjata, satu hal yang menjadi ciri khas dari Kartini adalah, ia menulis. Menulis memberinya kesempatan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, ide, kegelisahan, serta membuatnya berdiskusi dengan sahabat penanya di Belanda yang mungkin tidak dilakukan oleh pejuang wanita lain yang mengangkat senjata. Maka benar kiranya jika penulis Gol A Gong mengatakan bahwa Kartini pasti sedih jika tahu orang-orang mengingatnya dengan cara bersolek, karena Kartini mengajarkan bagaimana kita harus kritis dan memperjuangkan kemerdekaan. Baginya, menulis surat-surat pada Nyonya Abendanon, Nyonya Zeehandelaar, Tuan E. C. Abendanon, Tuan van Kol, dan sahabat penanya yang lain, adalah cara bagaimana ia berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan bagi bumiputra (panggilan Belanda pada bangsa Indonesia kala itu), khususnya bagi para kaum wanitanya.

Dengan menulis, gagasan Kartini abadi sampai saat ini. Lewat tulisan-tulisannya yang terangkum dalam buku-buku yang membahas sosoknyalah masyarakat dapat mengenal Kartini. Kebiasaan menulisnya ini yang harus diteladani oleh rakyat Indonesia. Masih sedikit tren peringatan hari kartini dengan mengadakan lomba menulis, pelatihan

menulis, atau membahas peran Kartini sebagai tokoh penggerak kemerdekaan perempuan, bukan sekadar memperingatinya dengan pawai keliling berbaju adat dan bermakeup tebal.

Ada banyak cara memperingati Hari Kartini di masyarakat Indonesia. Pawai dan baju adat hanya salah satu yang disebutkan mengingat kebiasaan ini merupakan kebiasaan yang ditanamkan pada usia anak-anak. Padahal pada usia inilah anak-anak mulai mengenali sekelilingnya dan ditanamkan kebiasaan baik. Sehingga, jangan sampai anak-anak salah kaprah memahami Hari Kartini sebagai hari berbaju adat, melainkan dapat memahami bahwa menulis, adalah hal yang dilakukan Kartini untuk memperjuangkan kemerdekaan untuk mendapatkan haknya.

Leave a Comment