Mencermati Korupsi dalam Tingkah Laku Sehari-hari

Pada suatu kelas kuliah, 15 menit sebelum kelas usai, dosen saya meminta maaf karena ia tidak bisa mengajar sampai waktu selesai tepat pada waktunya karena suatu urusan. “Saya minta maaf, karena harus selesai lima belas menit lebih awal. Bukan berniat korupsi dan memakan gaji buta, tapi karena ada suatu urusan yang tidak bisa saya tinggalkan,” begitu kira-kira ucapan dosen saya kala itu. Para mahasiswa—seperti biasanya, bersorak riang dalam hati karena kuliah selesai lebih cepat. Tapi, bukan itu yang menarik perhatian saya. Perkataan dosen tadi lebih menarik untuk dimaknai.

Maraknya kasus korupsi di negeri ini membuat persepsi sebagian orang mempersempit makna korupsi. Korupsi jadi diartikan sebagai penyelewengan uang negara yang digunakan untuk kepentingan pribadi, baik untuk memperkaya diri sendiri, maupun dalam bentuk menyogok orang lain untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri seperti jabatan, nama baik, maupun hak istimewa. Pengertian penyelewengan uang negara lalu seringkali dikaitkan dengan pejabat publik yang duduk di jajaran struktur dalam pemerintahan sehingga korupsi seolah-olah hanyalah tindakan yang mungkin dilakukan oleh pejabat negara saja. Pandangan ini membuat kita menjadi tidak awas terhadap makna luas korupsi yang mencakup pada tindakan tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya dengan tujuan meperoleh kepentingan pribadi dan mengambil hak orang lain.

Dalam contoh yang dekat dengan kehidupan kampus, kalimat dosen tersebut merupakan kalimat yang menarik karena dikatakan dengan kesadaran akan suatu bentuk tindakan korupsi. Pada umumnya, mahasiswa tentu akan maklum jika dosen tidak masuk kelas atau tidak mengajar secara penuh karena urusan-urusan dosen yang penting. Namun, saya pribadi tidak yakin banyak orang yang berpikir bahwa mengajar dengan tidak memenuhi alokasi waktu yang seharusnya merupakan bagian dari tindakan korupsi.

Menggunakan waktu dinas (bekerja) untuk urusan pribadi merupakan definisi korupsi waktu menurut KBBI. Definisi ini jika diturunkan dalam contoh perbuatan sehari-hari dapat berupa : dosen atau guru yang tidak menggunakan waktu mengajarnya untuk mengajar secara penuh pada jamnya, pegawai yang tidak menunaikan amanahnya saat jam kerja, dan lebih dekat lagi, bagi para pelajar dan mahasiswa, korupsi dapat berupa tidak menggunakan waktu belajarnya di sekolah atau universitas untuk belajar.

Mengapa tidak mengisi waktu kerja dengan melakukan pekerjaannya dapat dikatakan sebagai korupsi? Karena dari waktunyalah sebenarnya seorang guru, dosen, maupun pegawai diberi gaji. Jika seorang guru tidak menggunakan waktu di mana seharusnya ia bekerja dengan melakukan pekerjaannya, maka di sanalah ia mengambil hak siswa-siswa yang diajarnya yang seharusnya mendapat pendidikan. Pun begitu bagi dosen. Sehingga ada bagian dari gajinya yang merupakan gaji buta yang didapat bukan karena keringatnya.

salah satu karya yang ditampilkan waktu Festival Anti Korupsi, UGM, 2014
salah satu karya yang ditampilkan waktu Festival Anti Korupsi, UGM, 2014

Pun demikian bagi seorang siswa. Ada uang orang tua, uang beasiswa, juga uang negara yang turut membiayai proses pendidikan seorang pelajar baik ketika menempuh pendidikan di bangku formal. Amanahnya adalah : belajar dengan baik, dan dari situ seseorang mendapat janji masa depan yang baik, meski bukan hanya untuk dirinya, namun juga untuk elemen-elemen yang membiayainya, termasuk negara. Namun sayangnya, budaya korupsi kini juga mencemari niat baik para pelajar. Masih ada pelajar yang bolos di tengah jam pelajaran, juga banyak mahasiswa yang curi-curi titip absen. Sudah membohongi guru, tanpa sadar juga membohongi diri sendiri. Otomatis hal ini pun dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang merugikan negara yang telah memberikan sebagian anggarannya untuk membiayai anak-anak sekolah maupun mahasiswa yang ternyata membiarkan uangnya sia-sia. Sementara masih banyak anak-anak lain yang tidak memiliki kesempatan untuk duduk di bangku pendidikan formal karena  kondisinya yang papa.

Korupsi yang begitu dekat dengan rutinitas keseharian inilah yang perlu diberi perhatian lebih oleh kita. Jangan-jangan tanpa sadar kita termasuk orang yang pernah melakukannya. Atau malah bukan hanya pernah, tapi memang secara sadar merasa senang melakukannya. Menolerir diri dengan membuat alasan-alasan lain yang kita anggap masuk akal, sampai-sampai tanpa sadar korupsi yang sering kita hujat-hujat itu ternyata…ada bibit-bibitnya dalam diri kita.

Yuk, kita introspeksi diri!

Leave a Comment